Aku selalu membayangkan diriku berdiri di tengah kota, melihat sketsa rancanganku menjulang tinggi ke langit. Namun, takdir memiliki cetak biru yang berbeda; ia menempatkanku di balik meja kasir Kedai Kopi Senja, mewarisi aroma pahit dan manis yang ditinggalkan Ayah. Impian yang sudah kususun rapi di lemari arsip, kini harus tertunda tak tentu waktu.
Kepergian Ayah adalah badai yang datang tanpa peringatan, meninggalkan bukan hanya duka, tetapi juga tumpukan tagihan dan loyalitas pelanggan yang rapuh. Di usia yang seharusnya kuhabiskan untuk mengejar gelar dan idealisme, aku justru harus belajar membedakan Robusta dan Arabika, serta menyeimbangkan neraca keuangan yang selalu defisit. Beban itu terasa mencekik, seolah aku dipaksa mengenakan sepatu bot yang tiga ukuran lebih besar.
Malam-malam awal di kedai, aku sering menangis sambil menghitung sisa modal, merasa tidak adil terhadap diriku sendiri. Aku benci bau kopi yang kini melekat di pakaianku, benci tatapan kasihan dari para tetangga, dan yang paling kubenci, aku benci ketidakmampuanku untuk menjadi Ayah yang hebat dalam sekejap. Aku hanya ingin kembali ke papan gambarku.
Titik baliknya datang ketika seorang pelanggan setia, seorang kakek tua yang selalu memesan kopi hitam tanpa gula, bercerita tentang filosofi Ayah. Ia bilang, kedai ini bukan sekadar bisnis, melainkan jangkar bagi banyak orang yang mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk kota. Aku mulai melihat bukan hanya beban, tetapi warisan.
Perlahan, tanganku yang dulunya kaku memegang pensil kini luwes meracik minuman, menyapa setiap nama, dan mendengarkan kisah mereka. Aku mulai menerapkan prinsip arsitekturku pada manajemen kedai: membangun fondasi yang kuat, merancang efisiensi ruang, dan memastikan setiap detail memberikan kenyamanan. Kedai Kopi Senja perlahan bangkit, bukan karena keajaibanku, tetapi karena ketekunanku.
Aku sadar, jalan yang kupilih ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Setiap cangkir kopi yang kubuat kini adalah tinta, dan setiap pelanggan adalah saksi bisu transformasiku. Kedewasaan ternyata tidak diukur dari seberapa banyak ijazah yang kita miliki, melainkan seberapa besar kita berani memikul tanggung jawab yang tidak kita minta.
Pengalaman ini mengajarkanku bahwa jeda bukan berarti berhenti; ia adalah waktu yang dibutuhkan alam semesta untuk mengasah kita menjadi senjata yang lebih tajam. Mimpi arsitekku masih ada, tetapi kini ia memiliki kedalaman dan fondasi emosional yang jauh lebih kokoh, ditempa oleh aroma pahit dan manis dari perjuangan ini.
Aku menutup buku kas malam itu, kelelahan namun puas. Aku mungkin belum membangun gedung pencakar langit, tetapi aku telah berhasil membangun kembali diriku sendiri di tengah puing-puing kehilangan. Pertanyaannya, setelah semua ini, apakah aku masih akan mengejar impian lamaku, atau justru menemukan bahwa takdir telah memberiku kanvas yang jauh lebih luas dan nyata di kedai kopi ini?