Cahaya lampu jalanan yang remang seolah mengejek kekosongan yang selama ini aku pelihara di dalam dada. Aku selalu mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal pertambahan angka, hingga badai itu datang meruntuhkan seluruh duniaku tanpa peringatan sedikit pun.
Kehilangan bukan sekadar tentang perpisahan, melainkan tentang bagaimana kita tetap berdiri saat kaki terasa lumpuh oleh kenyataan pahit. Di titik terendah itu, aku menyadari bahwa setiap air mata yang jatuh adalah tinta yang sedang menuliskan bab baru dalam hidupku.
Aku mulai belajar mendengarkan sunyi, sebuah melodi yang dulu selalu kuhindari karena terlalu menyakitkan untuk dihadapi sendirian. Ternyata, dalam keheningan itulah suara hatiku yang paling jujur mulai berbisik tentang arti sebuah penerimaan yang tulus dan mendalam.
Setiap lembaran dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis ini tidak selalu berisi bab-bab yang indah atau penuh dengan tawa riang. Ada kalanya aku harus menuliskan tentang kegagalan yang sangat perih agar aku bisa mengerti betapa berharganya sebuah keberhasilan kecil.
Teman-teman lama mulai menjauh seiring dengan perubahan cara pandangku yang tak lagi searah dengan hura-hura mereka yang semu. Namun, kesepian itu justru memberiku ruang untuk membenahi diri dan menyusun kembali kepingan mimpi yang sempat terserak di lantai waktu.
Aku tidak lagi menyalahkan takdir atau mencari kambing hitam atas setiap luka yang menganga di sepanjang perjalanan panjang ini. Kedewasaan ternyata adalah tentang mengambil tanggung jawab penuh atas setiap pilihan yang kubuat, sekecil apa pun risiko yang harus kuhadapi.
Kini, setiap pagi yang datang bukan lagi beban yang harus kupanggul dengan terpaksa, melainkan lembaran putih yang siap untuk kuwarnai. Aku telah berdamai dengan masa lalu, membiarkannya menjadi guru yang paling bijaksana namun tetap tegas dalam mendidik jiwaku.
Langit sore yang berwarna jingga kini terasa lebih hangat, seolah memberikan pelukan bagi jiwa yang telah lelah berjuang sendirian. Aku tahu perjalanan ini masih sangat jauh, namun langkahku kini terasa lebih mantap dan tidak lagi mudah goyah oleh embusan angin.
Pada akhirnya, aku mengerti bahwa menjadi dewasa adalah tentang bagaimana kita tetap memiliki hati yang lembut di tengah dunia yang keras. Apakah luka-luka ini akan benar-benar sembuh, ataukah mereka akan tetap tinggal sebagai pengingat bahwa aku pernah cukup kuat untuk bertahan?