Dahulu, aku mengira dunia hanyalah taman bermain luas yang selalu menyediakan pelukan hangat saat aku terjatuh. Setiap masalah terasa sepele karena ada tangan-tangan kokoh yang selalu siap menopang segala beban di pundakku.
Namun, badai datang tanpa mengetuk pintu, meruntuhkan pilar-pilar kenyamanan yang selama ini kuanggap abadi. Seketika, aku berdiri sendirian di tengah riuh rendah dunia yang tak lagi peduli pada setiap tetes air mataku.
Aku dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa hidup tidak berhutang apa pun padaku, termasuk kebahagiaan yang instan. Hari-hari yang biasanya penuh tawa berganti menjadi perjuangan sunyi untuk sekadar tetap berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Dalam setiap lembar novel kehidupan yang sedang kutulis ini, aku menyadari bahwa luka adalah tinta terbaik untuk mencatat keberanian. Kedewasaan ternyata bukan tentang bertambahnya angka usia, melainkan tentang seberapa tenang kita saat menghadapi badai.
Aku mulai belajar menghargai setiap peluh yang jatuh dan setiap keputusan sulit yang harus diambil demi masa depan. Tak ada lagi keluhan yang sia-sia, hanya ada tekad kuat untuk merajut kembali mimpi-mimpi yang sempat terkoyak.
Terkadang rasa lelah menyergap, membisikkan kata menyerah saat jalan di depan tampak begitu terjal dan berkabut. Namun, di titik nadir itulah aku justru menemukan kekuatan tersembunyi yang tak pernah kuketahui keberadaannya selama ini.
Kini, cermin di depanku tidak lagi menampilkan sosok manja yang selalu menuntut dunia untuk mengerti segala keinginannya. Aku melihat sorot mata yang lebih dalam, penuh dengan pemahaman akan arti sebuah tanggung jawab yang sesungguhnya.
Setiap kegagalan kini kupandang sebagai guru yang bijak, bukan lagi musuh yang harus dihindari dengan rasa takut yang berlebihan. Aku telah belajar bahwa untuk menjadi dewasa, seseorang harus berani memaafkan masa lalu dan merangkul ketidakpastian.
Perjalanan ini masih sangat panjang, dan aku tidak tahu kejutan apa lagi yang akan dihadirkan oleh semesta di tikungan berikutnya. Namun satu hal yang pasti, aku tidak akan lagi gentar karena aku telah menemukan jati diri yang sejati di balik badai yang mendewasakan.