Langit sore itu tampak kelabu, seolah merestui langkah kakiku yang berat meninggalkan ambang pintu rumah. Aku membawa sebuah koper tua dan segenggam harapan yang masih terasa sangat rapuh di dalam dada.

Selama ini, aku hanya tahu cara menerima tanpa pernah mengerti betapa kerasnya dunia di luar sana. Kehangatan rumah adalah benteng yang selama ini membutakanku dari realitas hidup yang sebenarnya.

Kegagalan pertama datang tanpa permisi, menghantam egoku hingga hancur berkeping-keping di lantai trotoar yang dingin. Saat itulah aku menyadari bahwa tidak ada lagi tangan ibu yang akan langsung menghapus air mataku secara instan.

Malam-malam sepi di perantauan menjadi guru terbaik yang pernah kutemui dalam perjalanan panjang ini. Aku belajar menghargai setiap butir nasi dan setiap detik waktu yang sebelumnya sering terbuang sia-sia.

Menjadi dewasa ternyata bukan tentang berapa angka usia yang telah kita lalui di atas kalender yang usang. Ini tentang bagaimana kita memilih untuk tetap berdiri meski badai masalah datang bertubi-tubi tanpa henti.

Setiap babak yang kulewati terasa seperti sebuah Novel kehidupan yang penuh dengan plot tak terduga dan konflik batin. Aku adalah penulis sekaligus tokoh utama yang harus menentukan sendiri bagaimana akhir dari cerita ini.

Aku mulai memandang wajah orang tuaku dengan cara yang berbeda, penuh dengan rasa hormat yang sangat mendalam. Pengorbanan mereka yang dulu kuanggap biasa, kini terlihat seperti perjuangan pahlawan tanpa tanda jasa.

Luka-luka kecil di hati perlahan mengering, meninggalkan bekas yang menjadikanku pribadi yang jauh lebih tangguh. Kedewasaan menyelinap masuk melalui celah-celah kekecewaan yang berhasil kupulihkan dengan rasa sabar.

Sekarang, aku tidak lagi takut pada kegelapan malam atau ketidakpastian masa depan yang membentang luas di hadapan. Sebab, kedewasaan sejati ditemukan saat kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai memeluk kenyataan dengan tangan terbuka.