Aroma pekat kopi robusta selalu menjadi latar belakang kehidupanku, namun selama ini, ia hanyalah sebuah kenangan manis yang bisa kutinggalkan kapan saja. Aku selalu membayangkan diriku di kota yang jauh, mengejar gelar master dalam bidang sastra, sementara kedai kopi Ayah hanyalah tempat singgah sebelum penerbangan besar itu tiba. Aku tidak pernah berpikir bahwa bau sangrai yang memabukkan itu akan menjadi rantai yang mengikatku pada takdir yang sama sekali berbeda.
Semua berubah saat Ayah mendadak ambruk di balik meja kasir, meninggalkan beban operasional dan tumpukan tagihan yang selama ini ia sembunyikan dengan senyum lelah. Aku, si gadis yang hanya tahu cara menulis esai, tiba-tiba harus berhadapan dengan hitungan laba rugi, negosiasi dengan pemasok yang curang, dan tatapan skeptis dari para barista senior. Impianku untuk segera terbang harus kukubur dalam-dalam, digantikan oleh suara bising mesin penggiling yang tak pernah berhenti.
Malam-malamku kini dipenuhi oleh angka-angka merah di buku kas, bukan lagi bait-bait puisi yang romantis. Ada kalanya aku menangis di gudang penyimpanan biji kopi, merasa terperangkap dan marah pada semesta yang begitu cepat merenggut kebebasan dan masa mudaku. Aku merasa seperti pecundang yang gagal mencapai garis akhir yang sudah kurencanakan dengan matang.
Titik balik itu datang saat salah satu karyawan tertua, yang sudah bekerja sejak Ayah muda, menepuk pundakku. Ia tidak memberiku nasihat klise, ia hanya memberiku secangkir kopi hitam tanpa gula, yang pahitnya mengingatkan pada kenyataan yang harus kutelan. Ia bilang, tanggung jawab bukanlah beban yang harus disesali, melainkan kesempatan untuk mengukir karakter yang lebih kuat.
Aku mulai membaca setiap dokumen dengan saksama, belajar membedakan varietas kopi, dan bahkan turun tangan meracik sendiri. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah soal usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu beradaptasi dan berdiri tegak saat badai menghantam. Pengalaman ini mengajariku bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan kita untuk mengorbankan keinginan demi kebutuhan yang lebih besar.
Perlahan, kedai kopi itu mulai kembali bernapas, bukan karena keajaiban, melainkan karena keringat dan air mata yang kuinvestasikan. Aku mulai memahami bahwa setiap kesulitan yang kualami, setiap kegagalan kecil dalam perhitungan stok, adalah babak penting dalam sebuah skenario besar. Inilah yang disebut Novel kehidupan, di mana penulisnya adalah takdir, dan tokoh utamanya harus berjuang tanpa tahu akhir ceritanya.
Aku tidak lagi memandang kedai ini sebagai penjara, melainkan sebagai medan perang pribadiku, tempat aku menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aku mungkin kehilangan beasiswa ke luar negeri, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan diri yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan pemahaman mendalam tentang arti warisan.
Kini, setahun setelah semua kekacauan itu, aku berdiri di depan mesin kopi, mencium aroma yang sama, tetapi dengan hati yang berbeda. Aku telah menjadi Risa yang baru, yang tangguh, yang mampu memimpin, dan yang memahami bahwa pahitnya kopi adalah esensi yang membuat manisnya hidup terasa lebih nyata.
Saat Ayah akhirnya pulih dan duduk di sudut kedai, menatapku dengan mata penuh haru, ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia hanya tersenyum dan bertanya, "Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Nak? Apakah kamu masih ingin mengejar mimpi lamamu itu?" Aku membalas senyumnya, menyadari bahwa meskipun kedai ini sudah aman, perjalananku baru saja dimulai, dan ada hal lain yang harus kuselamatkan—sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar bisnis keluarga.