Aku selalu berpikir bahwa kedewasaan adalah garis finish yang akan kucapai secara otomatis seiring bertambahnya usia. Dunia yang ku huni terasa lembut, dikelilingi oleh jaring pengaman yang dibangun Ayah dan Ibu. Aku adalah versi diriku yang paling manja, tidak pernah benar-benar mengerti arti perjuangan.
Semua berubah saat musim kemarau panjang itu datang, membawa serta kabar buruk yang mematahkan tulang punggung keluarga. Ayah terbaring lemah, dan bisnis kecil yang menjadi nafas kami tiba-tiba terancam runtuh. Aku yang biasanya hanya memikirkan jadwal kuliah dan kencan, kini harus berhadapan dengan tumpukan tagihan dan tatapan mata para karyawan yang penuh harap.
Awalnya, aku ingin melarikan diri. Rasa takut mencengkeram begitu kuat, membuatku merasa lumpuh dan tidak mampu. Bagaimana mungkin aku, yang bahkan tidak tahu cara mengelola keuangan pribadi, harus memimpin sebuah kapal yang sedang karam di tengah badai? Namun, tangisan Ibu yang tertahan di malam hari menjadi cambuk paling menyakitkan yang menyadarkanku. Aku harus mengambil alih kemudi. Langkah pertama terasa seperti menelan pasir; aku harus menjual perhiasan warisan nenek untuk membayar utang mendesak. Keputusan itu menyakitkan, tetapi anehnya, juga membebaskan.
Aku mulai belajar membaca laporan keuangan, bernegosiasi dengan pemasok yang keras kepala, dan menghadapi penolakan demi penolakan. Setiap kegagalan adalah pelajaran yang mahal, mengikis lapisan-lapisan kepolosan yang selama ini melindungiku. Aku menyadari bahwa hidup bukanlah sekadar teori di buku, melainkan medan perang yang menuntut keberanian.
Dalam kesendirian di meja kerja yang dingin, aku menemukan pemahaman baru. Semua kesulitan ini, semua air mata dan keringat, adalah bagian terpenting dari alur cerita yang disebut Novel kehidupan. Tidak ada babak yang terlewatkan; justru babak-babak paling menyakitkanlah yang membentuk narasi paling kuat.
Perlahan, perusahaan itu mulai bernapas lagi. Bukan dengan cara yang spektakuler, tetapi melalui ketekunan yang membosankan dan detail yang teliti. Saat aku melihat senyum lega di wajah Ibu, aku tahu bahwa aku telah memenangkan pertempuran yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan bisnis; aku memenangkan diriku sendiri.
Risa yang sekarang berdiri di depan cermin adalah seseorang yang asing sekaligus akrab. Garis keras di wajahku adalah peta dari setiap keputusan sulit yang telah kuambil. Aku masih muda, tetapi jiwaku telah melalui proses penempaan yang membuatku mengerti arti empati dan tanggung jawab.
Aku tidak lagi takut pada patahan takdir. Sebab, aku tahu, luka yang mengering bukan hanya meninggalkan bekas, tetapi juga mengukir kekuatan yang abadi. Pertanyaannya, setelah semua badai ini berlalu, apakah aku benar-benar siap menghadapi babak baru yang menanti di cakrawala?