Aku selalu hidup dalam garis lurus yang sempurna. Nilai terbaik, pekerjaan impian, dan tepuk tangan yang tak pernah berhenti. Aku yakin, kedewasaan adalah akumulasi dari pencapaian, sebuah piala yang bisa dipamerkan di rak.
Keyakinan itu membuatku buta, menganggap kerikil kecil di jalan sebagai kesalahan yang harus disingkirkan, bukan sebagai bagian dari perjalanan. Aku memimpin tim dengan arogansi, percaya bahwa visiku tak mungkin salah, hingga proyek terbesar yang kuharapkan menjadi mahakarya, runtuh dalam semalam.
Kehancuran itu terasa seperti gempa bumi yang merobohkan seluruh fondasi kehidupanku. Bukan hanya kerugian materi, tetapi juga hilangnya rasa hormat dan kepercayaan diri yang selama ini menjadi identitasku. Malam-malam kulalui dalam keheningan yang memekakkan, bertanya-tanya mengapa semesta begitu kejam.
Aku melarikan diri, jauh dari kota yang mengenal namaku. Di sebuah desa pesisir yang tenang, aku menerima pekerjaan sederhana, meracik kopi di sebuah kedai kecil. Tangan yang terbiasa menekan tombol presentasi kini sibuk mengaduk gula dan membersihkan tumpahan.
Di sana, aku bertemu orang-orang yang hidupnya jauh dari kata ‘sempurna’ namun dipenuhi kedamaian yang tak pernah kurasakan saat berada di puncak. Mereka mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu harus menang; kadang, cukup dengan bertahan dan berbagi tawa kecil.
Perlahan, aku menyadari bahwa apa yang kusebut kegagalan adalah babak terpenting dari Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku mulai menghargai proses, memahami bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks, penuh cacat dan keindahan yang saling melengkapi.
Aku belajar meminta maaf, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diriku yang terlalu keras. Kedewasaan ternyata bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali dengan hati yang lebih lembut dan mata yang lebih terbuka.
Bekas luka akibat keruntuhan proyek itu masih ada, tetapi kini ia tidak lagi terasa seperti aib. Ia adalah peta, penanda jalan yang mengingatkanku bahwa harga diri sejati tidak ditemukan dalam kesuksesan, melainkan dalam kerendahan hati.
Aku menutup buku jurnal itu, menghirup aroma laut yang asin. Aku tahu, badai lain pasti akan datang. Namun, kini aku sudah siap. Aku telah kehilangan segalanya, dan justru dalam kehilangan itulah aku menemukan diriku yang sejati, yang kini jauh lebih utuh dan kuat dari sebelumnya.



