Aku selalu membayangkan kedewasaan sebagai pintu gerbang menuju kebebasan, tempat di mana aku bisa melukis impian tanpa batas. Risa, nama panggilanku, hanyalah seorang seniman muda yang hanya mengenal kanvas dan palet, jauh dari hiruk pikuk tanggung jawab yang sesungguhnya. Aku percaya bahwa takdirku adalah menciptakan keindahan, bukan mengurus kekacauan.
Namun, semesta punya rencana lain yang jauh lebih keras dan mendesak. Sebuah peristiwa tak terduga memaksa tanganku melepaskan kuas dan menggenggam buku besar keuangan keluarga yang berantakan. Tiba-tiba, aku harus menjadi nahkoda bagi kapal yang hampir karam, padahal aku bahkan belum mahir berenang.
Perkebunan kopi peninggalan Ayah yang diimpikan sebagai warisan indah, ternyata adalah beban yang berat di ambang kebangkrutan. Aku harus berhadapan dengan para tengkulak yang licik dan pekerja yang meragukan kemampuanku hanya karena aku seorang gadis muda. Setiap pagi adalah peperangan baru melawan keraguan diri dan realitas yang pahit.
Aku ingat malam-malam tanpa tidur, saat air mata membasahi catatan hutang dan daftar inventaris yang tidak masuk akal. Di sana, di tengah sunyi kebun yang dingin, aku mulai memahami bahwa cinta sejati tidak selalu romantis, melainkan tentang pengorbanan yang sunyi dan tak terucap. Itu adalah momen ketika ego mudaku perlahan mati.
Kegagalan demi kegagalan—panen yang gagal, penipuan kontrak, penolakan dari bank—menjadi guru yang paling kejam sekaligus paling jujur. Aku belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang memerintah, melainkan tentang berdiri paling depan saat badai datang menerpa. Perlahan, aku mulai menemukan ritme baru antara pahitnya kopi dan pahitnya hidup.
Dalam proses ini, aku menyadari bahwa apa yang aku jalani ini adalah bagian terpenting dari sebuah alur cerita. Ini adalah bagian yang paling gelap dan paling mendalam dari Novel kehidupan yang harus kubaca sendiri. Setiap luka, setiap keputusan sulit, membentuk alinea yang tidak mungkin dihapus.
Aku tidak lagi merindukan diriku yang dulu, yang naif dan hanya peduli pada kesenangan sesaat. Kedewasaan ternyata adalah proses menambal lubang, memperbaiki kerusakan, dan belajar untuk tetap berdiri tegak meskipun fondasi sudah retak. Aku tumbuh bukan karena aku mau, tetapi karena aku dipaksa oleh keadaan.
Kini, aku bisa melihat kebun kopi itu tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi sebagai cermin jiwaku yang telah ditempa. Bijinya yang pahit, setelah melalui proses panjang, justru menghasilkan aroma yang paling kaya dan memabukkan. Sama seperti diriku, yang melewati kepahitan untuk menemukan esensi yang lebih kuat.
Lalu, bagaimana dengan kanvas dan impian melukisku? Mereka masih tersimpan rapi, namun kini aku tahu, aku tidak lagi melukis keindahan semu. Aku akan melukis kekuatan, melukis ketahanan, melukis kisah bagaimana seorang gadis muda akhirnya menemukan kebebasan sejati—bukan dalam pelepasan, melainkan dalam penerimaan tanggung jawab yang menyeluruh.