Dulu, hidupku adalah dentuman musik, keringat di ruang latihan, dan janji panggung gemerlap. Aku adalah penari, selalu bergerak ke depan, tak pernah menoleh ke belakang. Semua itu runtuh secepat embusan angin ketika surat wasiat Ayah tiba, menyerahkan padaku ladang kopi yang berlumut di lereng pegunungan.
Ladang itu bukan hanya warisan; itu adalah beban utang yang menggunung dan mimpi yang terpaksa kukubur dalam-dalam. Tangan yang terbiasa memegang pita balet kini harus belajar memegang cangkul dan membedakan mana biji yang matang dan mana yang busuk. Aku merasa asing, kotor, dan sangat rapuh.
Ada malam-malam di mana aku menangis, merindukan lampu sorot dan tepuk tangan penonton yang tak pernah kudapatkan lagi. Aku bertanya pada langit, mengapa tanggung jawab sebesar ini harus menimpaku, seorang gadis yang hanya tahu cara menari. Rasanya seperti dipaksa memainkan peran utama dalam drama yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pagi pertama di kebun, saat kabut tebal menyelimuti punggung bukit, aku hampir menyerah dan kembali ke kota. Namun, melihat wajah-wajah petani tua yang menggantungkan hidup pada kebun ini, aku tahu melarikan diri bukanlah pilihan. Kedewasaan ternyata adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak ketika semua fondasi yang kau kenal telah runtuh.
Aku mulai belajar dari nol, menyerap setiap nasihat tentang tanah, cuaca, dan siklus panen. Kehilangan kenyamanan dan kemewahan kota mengajarkanku bahwa nilai sejati terletak pada proses, bukan hasil akhir. Setiap biji kopi yang kupegang adalah pelajaran tentang ketekunan yang harus kupelajari.
Setiap pagi, saat kabut menyelimuti lereng, aku menyadari bahwa panggung gemerlap yang kutinggalkan hanyalah bab awal. Ini, ladang yang penuh lumpur dan keringat ini, adalah inti dari Novel kehidupan yang sesungguhnya. Aku tidak lagi menari di atas panggung, tetapi aku menari bersama alam, mengikuti irama musim yang keras dan tak terduga.
Tangan yang dulu lembut kini kasar dan kapalan, tetapi di dalamnya tersimpan kekuatan baru yang tak pernah kupikirkan. Aku bukan lagi Risa si penari yang manja; aku adalah Risa, sang penjaga warisan, yang tahu bagaimana menghadapi badai tanpa merengek. Kedewasaan bukanlah pencapaian usia, melainkan hasil dari badai yang kita lalui.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa berarti menerima bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi kita selalu punya pilihan untuk menentukan bagaimana kita merespons ketidakadilan itu. Rasa pahit dari secangkir kopi yang baru diseduh kini terasa seperti kemenangan kecil.
Meskipun utang belum lunas dan tantangan masih membayangi setiap musim, aku tidak lagi takut. Aku tahu, jika aku mampu bertahan dan menghidupkan kembali ladang ini, aku bisa menghadapi apa pun. Namun, pertanyaan besarnya kini, apakah aku masih punya tempat untuk menari di hati yang telah dipenuhi aroma tanah dan kopi ini?