JAKARTA – Potongan video pidato Presiden Prabowo yang menyebutkan adanya kenaikan gaji guru sebesar 300 persen sempat viral di media sosial dan memicu spekulasi mengenai kebijakan pemerintah. Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan kesalahan penyebutan spontan (slip of the tongue) yang segera dikoreksi oleh Presiden dalam forum resmi.

Dalam pidato yang disampaikan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengoreksi pernyataannya, menjelaskan bahwa kenaikan yang dimaksud adalah peningkatan penghasilan hakim, bukan guru. Koreksi yang dilakukan secara terbuka ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai bukti transparansi komunikasi publik.

Koreksi Terbuka Bukti Transparansi

Pengamat komunikasi politik, Fauzan, menekankan pentingnya membedakan antara kekeliruan teknis dalam penyampaian dengan arah kebijakan pemerintah.

"Kesalahan penyebutan dalam pidato panjang adalah hal yang bisa terjadi pada siapa pun, termasuk kepala negara. Yang penting adalah bagaimana koreksi dilakukan. Dalam kasus ini, Presiden langsung memperbaiki ucapannya secara terbuka, sehingga aspek transparansi komunikasi publik justru terlihat," ujar Fauzan pada Selasa (21/5).

Menurut Fauzan, viralnya potongan video singkat berpotensi mengalihkan perhatian publik dari substansi utama pidato, yakni mengenai reformasi kelembagaan hukum, peningkatan kesejahteraan aparat negara, dan penguatan tata kelola pemerintahan.

Fenomena salah ucap dalam forum kenegaraan juga dinilai lazim terjadi secara global. Peneliti senior Citra Institute, Efriza, mencontohkan beberapa kasus serupa yang pernah dialami pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat Joe Biden.

"Publik perlu membedakan mana substansi kebijakan dan mana kekeliruan teknis saat berbicara. Jika langsung dikoreksi dan tidak memengaruhi keputusan negara, maka konteksnya berbeda dengan kesalahan kebijakan," tutur Efriza.

Narasi Harapan Palsu Dinilai Tidak Sesuai Fakta