PORTALBERITA.CO.ID - Fenomena bekerja dari rumah (WFH) yang awalnya dipandang sebagai solusi fleksibel kini justru menimbulkan tantangan baru dalam manajemen waktu, khususnya bagi para ibu yang bekerja. Situasi ini mengharuskan adanya pergeseran strategi agar capaian pekerjaan tetap optimal tanpa mengabaikan kesejahteraan psikologis.

Isu kelelahan atau burnout menjadi perhatian utama dalam konteks kerja jarak jauh ini, menuntut para profesional untuk menemukan titik temu antara tanggung jawab profesional dan domestik. Adaptasi ini sangat krusial untuk memastikan keberlanjutan kinerja dalam jangka panjang.

Salah satu contoh nyata tantangan ini dialami oleh Wiwid, seorang profesional berusia 38 tahun yang saat ini menjabat sebagai document controller specialist di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang berlokasi di Jakarta. Ia merasakan perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di kantor versus di rumah.

Wiwid menemukan bahwa lingkungan kerja dari rumah menuntut pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika ia bekerja secara fisik di kantor. Hal ini menunjukkan bahwa model kerja remote memiliki dinamika tersendiri yang perlu dipahami oleh pekerja.

Dilansir dari INFOTREN.ID, tantangan yang dihadapi para ibu pekerja ini menuntut adanya pengembangan strategi khusus agar produktivitas tetap terjaga. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ini.

"Fenomena ini memerlukan adaptasi strategi khusus agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan mental," demikian disampaikan dalam analisis mengenai kondisi ibu pekerja saat ini. Hal ini menekankan urgensi penyesuaian pola kerja.

Wiwid secara spesifik menggarisbawahi bagaimana tuntutan lingkungan WFH berbeda dari rutinitas di kantor. "Ia menemukan bahwa lingkungan kerja dari rumah menuntut pendekatan yang berbeda dibandingkan bekerja di kantor," jelas mengenai pengalamannya.

Situasi ini menegaskan bahwa meskipun WFH menawarkan kenyamanan lokasi, tantangan manajemen waktu dan batas antara pekerjaan dan rumah seringkali menjadi kabur dan lebih berat untuk dikelola secara mandiri. Keseimbangan mental menjadi pertaruhan utama.

Dikutip dari INFOTREN.ID, isu burnout yang muncul akibat tumpang tindih peran ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk perusahaan dan individu itu sendiri, untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung.