PORTALBERITA.CO.ID - Situasi pasar keuangan sempat diselimuti kegelisahan ketika nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren penurunan yang signifikan, bahkan dilaporkan menembus ambang batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi pelemahan mata uang domestik ini ternyata juga berdampak langsung pada pergerakan bursa saham, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan terkoreksi cukup dalam hingga mencapai level 5.839, atau tergerus sebesar 1,7 persen.
Kekhawatiran di kalangan pelaku pasar semakin menguat karena kurangnya komunikasi kebijakan yang terlihat jelas dari otoritas moneter, yaitu Bank Indonesia (BI), selama periode volatilitas tersebut berlangsung.
Menanggapi spekulasi dan tudingan mengenai komunikasi kebijakan yang dinilai kurang memuaskan banyak pihak, Istana Negara akhirnya mengambil inisiatif untuk memberikan klarifikasi resmi mengenai kondisi yang terjadi.
Pertanyaan besar yang melayang di tengah pasar adalah mengenai alasan di balik keheningan Bank Indonesia tersebut, terutama ketika gejolak nilai tukar mencapai titik yang memerlukan respons tegas dari regulator.
Dilansir dari BisnisMarket.com, Istana Negara mengakui bahwa memang terdapat beberapa kekurangan dalam penanganan komunikasi publik pada fase awal gejolak tersebut, namun langkah perbaikan telah dilakukan.
Pihak Istana mengindikasikan bahwa meskipun sempat terjadi jeda dalam komunikasi publik, respons dan langkah-langkah kebijakan moneter yang diperlukan sebenarnya telah disiapkan dan kini sudah diperbaiki dari sisi koordinasi.
"Istana mengakui adanya kekurangan dalam komunikasi pada periode tersebut, namun kami tegaskan bahwa hal tersebut sudah menjadi perhatian dan sedang dalam proses perbaikan," ujar salah satu juru bicara Istana, merespons isu yang beredar.
Klarifikasi ini diharapkan dapat meredakan ketegangan di pasar keuangan dan mengembalikan kepercayaan pelaku ekonomi terhadap strategi stabilitas yang dijalankan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.