JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah Londo Ireng pada Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC) menjadi sorotan publik. Di media sosial, pembahasan bahkan merembet hingga mengaitkannya dengan silsilah keluarga Presiden.

Meskipun memicu perdebatan, pidato Presiden tersebut secara substansial menyoroti aspek keberlanjutan pembangunan, keterbukaan terhadap kritik, serta imbauan untuk menjaga independensi bangsa demi mencapai target Indonesia Emas 2045.

Substansi Pidato: Menjaga Kepentingan Nasional

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyoroti dinamika pemberitaan media yang dinilai kerap memberikan porsi besar pada kekurangan kinerja pemerintah secara kurang berimbang.

"Ada juga media-media yang iya kan, walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki. Dia foto besar, taruh di halaman pertama. Aduh... dia kira kita enggak ngerti, eh? Saya enggak sebutlah media mana itu. Kalau saya sebut ya pada saatnya akan saya sebut. Kalian sudah tahulah itu," ujar Prabowo.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak anti terhadap kritik. Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilai lebih mengabdi pada kepentingan asing dibanding bangsa sendiri.

"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," tegasnya.

Prabowo juga mengajak publik untuk bersikap kritis terhadap pihak-pihak yang menyebarkan narasi destruktif. "Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa?" lanjutnya.

Selain itu, Presiden menepis berbagai narasi pesimistis yang memprediksi kegagalan ekonomi Indonesia. Menurutnya, spekulasi mengenai kebangkrutan nasional dari bulan ke bulan membuktikan adanya upaya untuk menggoyahkan stabilitas negara.