PORTALBERITA.CO.ID - Sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia diproyeksikan masih akan menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai stabilitas lapangan kerja di sektor padat karya tersebut.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, industri yang menjadi salah satu penopang utama penyerapan tenaga kerja nasional ini terpantau belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Situasi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para pelaku usaha dan pekerja di tanah air.

Tekanan berat ini terjadi di tengah kelesuan aktivitas manufaktur secara umum yang melanda pasar domestik. Akibatnya, kapasitas produksi dan operasional pabrik-pabrik tekstil belum dapat berjalan dengan optimal.

Selain penurunan aktivitas manufaktur, pasar dalam negeri juga terus digempur oleh banjirnya produk-produk impor. Kehadiran barang impor tersebut membuat produk lokal kesulitan bersaing di pasar sendiri.

Kombinasi antara penurunan daya beli masyarakat dan maraknya barang impor ini memperburuk kondisi keuangan perusahaan tekstil. Jika situasi ini terus berlanjut tanpa penanganan, efisiensi operasional menjadi langkah yang sulit dihindari.

Dampak nyata dari tekanan ekonomi ini adalah munculnya potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan bagi para buruh pabrik. Banyak pihak khawatir bahwa angka pengangguran di sektor ini akan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Upaya pemulihan industri TPT nasional pada sisa tahun 2026 ini diperkirakan memerlukan waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan pemerintah dan pelaku industri sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan sektor strategis ini.

Follow portalberita.co.id
Follow on Google