PORTALBERITA.CO.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar domestik kembali mengalami tantangan signifikan pada hari perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Tekanan jual yang kuat dari pasar global turut berdampak langsung pada pelemahan mata uang Garuda terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi depresiasi ini terlihat jelas melalui penetapan kurs jual Dolar AS oleh berbagai institusi keuangan nasional. Beberapa bank tercatat mematok harga jual mata uang asing tersebut pada level yang cukup tinggi.
Secara spesifik, beberapa bank di Indonesia telah mencatat kurs jual Dolar AS mencapai angka Rp 18.010 per dolar AS. Angka ini menjadi indikator utama tekanan yang sedang dihadapi oleh Rupiah di bursa valuta domestik.
Pelemahan ini terjadi pada hari Selasa, 2 Juni 2026, yang menandai kelanjutan tren fluktuasi mata uang di awal bulan tersebut. Pasar tengah mencermati berbagai sentimen ekonomi global dan domestik yang memengaruhi sentimen investor.
Situasi pelemahan Rupiah ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar keuangan dan juga para analis ekonomi. Mereka mulai mengevaluasi faktor-faktor pendorong utama di balik depresiasi mata uang Garuda tersebut.
Terkait kondisi ini, para analis mulai merilis proyeksi mengenai potensi pergerakan nilai tukar Rupiah ke depannya. Proyeksi ini akan sangat bergantung pada bagaimana Bank Indonesia dan kebijakan moneter global merespons dinamika pasar saat ini.
Dilansir dari INFOTREN.ID, kondisi depresiasi Rupiah terlihat jelas dari penetapan kurs jual Dolar AS di berbagai bank nasional. Institusi keuangan tercatat mematok kurs jual mata uang asing tersebut pada level Rp 18.010 per dolar AS.
Sementara itu, para analis tengah mengkaji lebih dalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan tekanan jual yang kuat tersebut. Mereka berusaha memberikan pandangan mengenai antisipasi pergerakan lebih lanjut di pasar valuta asing.