JAKARTA – Nilai tukar Rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), kurs rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.179 per dolar AS.
Kondisi ini memicu kekhawatiran publik di media sosial, bahkan muncul narasi yang menyamakan situasi saat ini dengan gejolak ekonomi menjelang krisis moneter 1998. Pemerintah merespons hal ini dengan menegaskan bahwa pelemahan kurs tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai kesehatan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Purbaya: Fundamental Ekonomi Saat Ini Jauh Lebih Kuat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan krisis moneter tahun 1997-1998.
"Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-98 lagi,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (9/6).
Menurutnya, fundamental ekonomi nasional, kapasitas fiskal pemerintah, serta koordinasi kebijakan ekonomi yang diterapkan saat ini jauh lebih kuat dibandingkan era krisis Asia yang menyebabkan pelemahan Rupiah hampir tiga dekade lalu. Purbaya menekankan perlunya masyarakat melihat kondisi ekonomi secara menyeluruh, bukan hanya terfokus pada pergerakan kurs dalam jangka pendek.
Sentimen Pasar dan Mispersepsi Tekan Rupiah
Purbaya menjelaskan bahwa tekanan pada Rupiah dan pasar saham tidak sepenuhnya disebabkan oleh fundamental ekonomi yang memburuk. Ia menyoroti peran sentimen pasar yang muncul akibat kekhawatiran berlebihan terkait fiskal pemerintah.
"Kalau kita lihat data bulan Maret, seolah-olah defisitnya besar. 0,9 persen mereka kali empat, 3,6 persen. Itu yang digembar-gemborkan," katanya, merujuk pada persepsi pasar mengenai proyeksi defisit fiskal.