JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan jaminan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tidak mengarah pada kondisi krisis, menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal Juli 2026.

Pelemahan rupiah sempat terjadi pada 2 Juli 2026, ketika mata uang domestik tercatat menyentuh level Rp17.995 per dolar AS. Sehari berselang, 3 Juli 2026, pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.952 hingga Rp17.963 per dolar AS.

Kondisi fluktuasi ini memicu berbagai spekulasi dan kekhawatiran di media sosial, termasuk platform X dan Facebook, dengan beberapa unggahan mengaitkan pelemahan tersebut dengan kondisi ekonomi nasional di bawah pemerintahan Prabowo-Gibran.

Fundamental Kuat dan Faktor Eksternal Dominan

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan resmi. Menurutnya, situasi penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini tidak mencerminkan adanya pelemahan struktural nasional.

"Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, belum mengarah ke krisis," tegas Purbaya dalam keterangannya, Selasa (3/7/2026).

Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal global. Faktor-faktor pendorong utama meliputi penguatan indeks dolar AS, penyesuaian suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Fed), arus modal keluar, serta eskalasi geopolitik internasional.

Kinerja Domestik Tetap Positif

Selain faktor eksternal, Menteri Purbaya menyoroti stabilitas yang ditunjukkan oleh indikator makroekonomi domestik. Ia menyatakan bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia terus bersinergi menjaga stabilitas pasar, sementara utang luar negeri Indonesia masih berada dalam batas aman dan terkendali.