JAKARTA – Pemerintah Indonesia menepis narasi "Sell Indonesia" yang mengemuka seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi nasional masih terkendali dan hanya memerlukan waktu untuk kembali stabil.

Menteri Keuangan sekaligus Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan data arus modal asing menunjukkan investor global belum meninggalkan Indonesia.

"Yang penting kita lihat nett-nya, Kuartal II-2026 masih positif. Ini menjawab keraguan banyak orang," kata Purbaya di Jakarta, Kamis (6/6).

Data menunjukkan bahwa pada kuartal kedua tahun 2026, tercatat aliran masuk (inflow) modal asing mencapai Rp60,9 triliun. Rinciannya, Surat Berharga Negara (SBN) mencatat arus masuk Rp14,4 triliun, sementara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp70,1 triliun.

Meskipun pasar saham masih mengalami tekanan dengan adanya aliran keluar (outflow) sekitar Rp23,5 triliun, pemerintah menilai kondisi tersebut belum mencerminkan hilangnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

"Kalau kita lihat di sini optimismenya masih ada, ekonominya masih tumbuh, jadi jangan terlalu termakan satu pemberitaan saja," ujar Purbaya.

Fase Penyesuaian Pasar

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah dan IHSG saat ini merupakan kombinasi faktor global dan domestik, termasuk penyesuaian pasar terhadap implementasi kebijakan strategis pemerintah, seperti kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis yang mulai berlaku 1 Juni 2026. Kebijakan ini bertujuan memperkuat tata kelola sumber daya alam dan meningkatkan transparansi perdagangan.

Perubahan tata niaga dalam skala besar ini dinilai memerlukan waktu bagi pelaku usaha untuk melakukan adaptasi.