JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana melakukan kunjungan ke China dan Inggris untuk mempromosikan Surat Utang Negara (SUN), termasuk instrumen Panda Bond, kepada investor global. Langkah ini disambut beragam respons di publik, namun pemerintah menegaskan bahwa agenda tersebut merupakan strategi lazim dalam pengelolaan fiskal modern untuk memperluas sumber pembiayaan dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.

Purbaya mengonfirmasi agendanya, menyatakan akan bertolak ke China pada 16 Juni. "Panda Bond membuka akses Indonesia ke pasar keuangan China yang sangat besar sekaligus menjadi alternatif pendanaan di luar instrumen berbasis dolar AS," ujar Purbaya.

Diversifikasi Pembiayaan Jadi Kebutuhan Strategis

Di tengah dinamika pasar keuangan global dan fluktuasi nilai tukar rupiah, pemerintah tengah berupaya memastikan pembiayaan pembangunan tidak hanya bergantung pada satu pasar, kelompok investor, atau mata uang tertentu. Perluasan basis investor internasional menjadi kunci dalam strategi pengelolaan fiskal nasional.

Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan fiskal melalui diversifikasi sumber pembiayaan.

"Pemerintah tidak ingin bergantung pada satu sumber pembiayaan saja. Diversifikasi menjadi langkah penting untuk menjaga fleksibilitas dan ketahanan fiskal jangka panjang," tegas Purbaya, seraya menambahkan bahwa promosi ini bertujuan meyakinkan investor bahwa Indonesia menjalankan kebijakan ekonomi yang baik.

Panda Bond dan Pengurangan Ketergantungan Dolar AS

Salah satu fokus utama kunjungan tersebut adalah penjajakan penerbitan Panda Bond, obligasi yang diterbitkan di pasar keuangan China menggunakan mata uang yuan atau renminbi. Instrumen ini memberikan akses kepada Indonesia untuk menjangkau salah satu pasar obligasi terbesar di dunia.

Keuntungan utama dari Panda Bond adalah diversifikasi mata uang pembiayaan. Selama ini, pembiayaan internasional Indonesia masih didominasi oleh dolar Amerika Serikat. Dengan memanfaatkan Panda Bond, Indonesia memperoleh alternatif pendanaan baru yang dapat mengurangi risiko ketergantungan pada satu mata uang global.