JAKARTA — Memperingati Hari Perempuan Internasional, Women Crisis Center (WCC) Puantara menggelar diskusi publik sekaligus preview film terbaru bertajuk "Suamiku, Lukaku" di SCTV Tower, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Acara ini bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai urgensi memutus rantai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Film produksi SinemArt karya sutradara Sharad Sharan dan Viva Westi tersebut mengangkat realitas pahit KDRT serta pentingnya keberanian perempuan untuk bersuara. Dalam sesi diskusi bertema "Melalui Film, Kolaborasi Multi Pihak Dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Dalam Rumah Tangga", Viva Westi menekankan bahwa film ini dirancang sebagai medium edukasi.
"Kami ingin menunjukkan batas kesabaran dan hal-hal yang tidak bisa ditoleransi dalam kekerasan. Yang harus kita lakukan adalah memutus rantai kekerasan tersebut," ujar Viva. Ia juga menyoroti fenomena penyalahgunaan tafsir agama yang kerap digunakan untuk melanggengkan kekerasan, sehingga film ini diharapkan memicu refleksi kritis di masyarakat.
Selain isu perempuan, diskusi ini juga membedah dampak psikologis pada anak yang terjebak dalam pusaran KDRT, baik sebagai korban maupun saksi. Para narasumber menekankan pentingnya konseling psikologis dan dukungan lingkungan untuk menyembuhkan trauma batin anak.
"Pembagian pola asuh harus berpusat pada anak. Konseling menjadi langkah pertama, sementara perceraian adalah keputusan paling akhir, bukan pilihan utama," tegas Viva Westi.
Melalui karya ini, Sharad Sharan dan Viva Westi berharap dapat mendorong perempuan untuk memperjuangkan hak dan martabatnya. Mereka menilai, selama ini banyak perempuan kehilangan ruang bicara di rumah sendiri karena dibungkam oleh orang-orang terdekatnya.
Siti Husna dari WCC Puantara menambahkan bahwa lembaga mereka berkomitmen penuh untuk mendengar, mendampingi, dan memberdayakan korban. WCC Puantara terus mengupayakan pencegahan kekerasan berbasis gender melalui edukasi publik dan advokasi kebijakan.
Acara yang berlangsung di lantai 19 SCTV Tower ini menjadi momentum pengingat bahwa KDRT bukanlah sekadar masalah privat, melainkan isu sosial yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Melalui sinergi antara karya seni dan diskusi publik, masyarakat diajak untuk bersama-sama menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak.