Aku ingat betul aroma kopi pahit dan kertas gambar yang selalu menemaniku di awal karier. Ambisi membakar, seolah setiap garis yang kutorehkan adalah janji kesuksesan; aku yakin, proyek pembangunan resor tepi danau itu akan menjadi mahakarya pertamaku, sekaligus tiket emas menuju kemewahan kesombongan yang kurindukan.

Namun, semesta memiliki selera humor yang gelap. Sebuah detail kecil, sebuah celah dalam perizinan yang kukira sepele, menjadi palu godam yang merobohkan seluruh struktur yang kubangun. Kontrak itu dibatalkan sepihak, bukan karena kualitas desain, melainkan karena kelalaian administrasi yang sepenuhnya menjadi tanggung jawabku.

Keheningan di studio kerjaku malam itu terasa lebih memekakkan daripada suara sirene terkeras. Puing-puing keyakinan berserakan di lantai marmer. Rasanya seperti seluruh identitasku—sebagai arsitek muda yang brilian—ditarik paksa, meninggalkan hanya kerangka yang rapuh dan hampa.

Kegagalan finansial bisa diperbaiki, tetapi kesadaran akan tanggung jawab moral jauh lebih menyakitkan. Aku tidak bekerja sendiri; enam kepala keluarga menggantungkan harapan pada gaji yang kurencanakan dari proyek ini. Mereka telah bekerja keras, dan aku, sang pemimpin, telah gagal melindungi mereka dari badai yang kubuat sendiri.

Di titik terendah itu, aku membuat keputusan yang mengubah segalanya. Aku menjual aset kecil yang kumiliki dan menguras tabungan darurat, memastikan setiap anggota tim menerima gaji penuh, ditambah pesangon yang layak, meskipun secara legal aku tidak diwajibkan melakukan itu. Aku harus menanggung kerugian itu sendiri, tanpa menyentuh hak mereka.

Momen ketika aku melihat ketulusan dan pengertian di mata mereka, bukan kemarahan, mengajarkanku arti kepemimpinan sejati. Kegagalan ini, meskipun pahit, adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang harus kujalani; babak yang mengajarkan bahwa integritas lebih berharga daripada profit.

Kini, aku kembali membangun dari nol, mendesain kedai kopi sederhana di sudut kota. Tidak ada kemewahan, tidak ada sorotan media, hanya kepuasan dalam proses kreatif yang jujur. Humilitas telah menggantikan arogansi, dan aku menemukan kedamaian yang tak pernah kudapatkan saat berada di puncak.

Kedewasaan ternyata bukan tentang seberapa tinggi kita bisa terbang, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk mendarat—dengan bertanggung jawab dan berani memeluk puing-puing yang tersisa.