Aku selalu hidup dalam gelembung kaca, tempat segala kebutuhan terpenuhi bahkan sebelum sempat terucap. Kenyamanan itu—yang dulu kukira adalah anugerah—ternyata adalah tirai tebal yang menghalangi pandanganku terhadap kerasnya realitas. Aku adalah Risa yang manja, yang hanya tahu cara menuntut dan berpesta.
Perubahan itu datang tanpa peringatan, secepat badai yang merobohkan menara pasir. Ketika fondasi bisnis keluarga runtuh, aku dipaksa meninggalkan rumah mewah dan pindah ke sebuah kamar kos sempit di pinggiran kota yang bising. Rasanya seperti dibuang ke planet asing tanpa peta.
Malam-malam awal di tempat baru terasa dingin dan mencekam. Aku harus belajar mencuci pakaian dengan tangan, berdesakan di angkutan umum, dan menerima penolakan saat melamar pekerjaan. Ego yang selama ini membusung di dadaku perlahan-lahan mengempis, digantikan oleh rasa malu dan keputusasaan yang menusuk.
Namun, dalam keterbatasan itu, aku mulai melihat keindahan yang sebelumnya tak kasat mata. Senyum tulus dari ibu warung yang memberiku diskon nasi bungkus, atau semangat pantang menyerah dari rekan kerjaku yang harus bekerja ganda demi biaya kuliah. Mereka adalah cermin yang memantulkan betapa dangkalnya hidupku sebelumnya.
Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu bangkit setelah terhempas. Kegagalan besar itu adalah guru yang paling kejam, tetapi sekaligus paling jujur, yang pernah kukenal. Ia mengupas semua lapisan kepalsuan hingga tersisa inti diriku yang rapuh namun berpotensi.
Setiap air mata yang tumpah, setiap keringat yang membasahi dahi di bawah terik matahari, adalah babak penting dalam proses pendewasaan ini. Inilah yang kusebut sebagai Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, tanpa bantuan editor atau penerbit. Aku adalah penulis dan pemeran utamanya, dan ceritanya harus autentik.
Kini, aku mampu menghadapi tantangan dengan kepala tegak, tidak lagi lari mencari perlindungan. Keputusan-keputusan kecil yang dulu terasa sulit, kini kuambil dengan pertimbangan matang dan penuh tanggung jawab. Aku menemukan kekuatan yang tak pernah kukira kumiliki, sebuah benteng kokoh yang dibangun dari puing-puing masa lalu.
Aku bersyukur atas rasa sakit itu, karena ia telah memaksaku tumbuh melampaui batas-batas yang kubayangkan. Risa yang sekarang mungkin tidak sekaya Risa yang dulu, tetapi ia jauh lebih kaya akan makna dan ketahanan batin.
Jika besok aku harus kehilangan segalanya lagi, aku tahu aku akan baik-baik saja. Sebab, pelajaran terpenting telah kudapatkan: bahwa harga diri sejati tidak diukur dari apa yang kita miliki, melainkan dari siapa kita saat kita tidak memiliki apa-apa. Dan sekarang, aku siap untuk babak selanjutnya, apa pun yang disuguhkan takdir.


