Dulu, saya selalu membayangkan kedewasaan adalah gerbang menuju kebebasan, tempat di mana saya bisa mengejar mimpi tanpa perlu izin siapa pun. Namun, kenyataan membenturkan saya pada definisi yang jauh lebih berat: kedewasaan adalah saat kebebasan ditukar dengan tanggung jawab yang tak terhindarkan. Pukulan itu datang saat ayah tiba-tiba terbaring lemah, meninggalkan bengkel tenun keluarga yang sudah menua dalam kondisi kritis.
Malam itu, aroma pewarna alami dan debu kapas terasa mencekik, bukan menenangkan. Saya, yang biasanya hanya tahu cara menghabiskan uang, kini harus berhadapan dengan tumpukan nota dan wajah-wajah pekerja yang menanti kepastian gaji. Usia saya memang sudah cukup matang di mata hukum, tetapi jiwa saya masih terbuat dari mimpi-mimpi remaja yang rapuh.
Awalnya, saya memberontak. Saya membenci benang-benang kusut itu, membenci suara mesin tenun yang berderit seperti jeritan, dan membenci setiap pandangan skeptis dari pemasok yang meragukan kemampuan saya. Ada keinginan kuat untuk melarikan diri, kembali ke dunia yang hanya menuntut saya untuk memilih warna lipstik, bukan warna benang.
Tetapi, ketika saya melihat mata lelah ibu dan senyum tipis ayah yang penuh harapan, saya tahu, melarikan diri bukanlah pilihan. Saya mulai belajar membaca laporan keuangan yang rumit, menghitung margin keuntungan, dan yang paling sulit, menawar harga bahan baku dengan suara yang tegas, padahal lutut saya gemetar.
Setiap kegagalan dalam uji coba pola baru, setiap pesanan yang tertunda, dan setiap teguran keras dari pelanggan adalah pelajaran yang diukir langsung ke dalam sanubari. Saya mulai memahami bahwa menjalankan warisan bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi tentang mengorbankan diri demi kelangsungan hidup banyak orang. Tangan saya yang dulunya lembut kini kasar karena gesekan benang, tetapi di sana tertanam kekuatan baru.
Perjalanan ini, dengan segala pahit dan manisnya, adalah inti dari sebuah Novel kehidupan yang sesungguhnya. Itu bukan cerita fiksi yang bisa saya tutup saat bosan; ini adalah babak yang harus saya selesaikan dengan kehormatan. Saya belajar bahwa kedewasaan tidak datang saat ulang tahun ke sekian, melainkan saat kita mampu berdiri tegak di tengah badai, melindungi orang-orang yang kita cintai.
Saya mulai menemukan keindahan dalam proses menenun; bagaimana benang-benang yang terpisah bisa disatukan menjadi pola yang kokoh dan indah. Sama seperti hidup, kekacauan dan kesulitan yang saya hadapi kini membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan jauh lebih bijaksana.
Melihat kembali diri saya beberapa waktu lalu, saya merasa asing. Risa yang dulu hidup dalam kepompong kenyamanan telah mati, digantikan oleh sosok baru yang menghargai setiap tetes keringat dan setiap rupiah yang dihasilkan dari kerja keras. Transformasi ini menyakitkan, tetapi hasilnya adalah pemahaman mendalam tentang nilai diri.
Kini, bengkel itu kembali bernapas, bahkan tumbuh. Namun, pertanyaan besar selalu menghantui saya setiap malam saat saya menutup pintu kayu yang berat itu: Apakah Risa yang baru ini telah mengubur semua mimpi lamanya demi tanggung jawab, atau justru tanggung jawab ini yang membuka jalan menuju mimpi yang lebih besar dan lebih bermakna?


