JAKARTA - Penggunaan istilah "Londo Ireng" dalam pidato Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memicu diskursus publik yang meluas di media sosial.
Berbagai narasi berkembang dari potongan video, opini, hingga aksi simbolik yang memperdebatkan arah pernyataan tersebut.
Pemerintah melalui Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan konteks pidato Kepala Negara.
Klarifikasi tersebut menegaskan pentingnya memahami pidato Presiden secara utuh serta membedakan antara kritik konstruktif dan narasi yang berpotensi memecah belah.
Polemik Istilah Londo Ireng Usai Pidato Prabowo
Polemik mengemuka setelah potongan video pidato Presiden Prabowo di Harlah PKB beredar luas di berbagai platform media sosial seperti X dan TikTok.
Dalam klip yang terpotong tersebut, publik menyoroti penyebutan istilah "Londo Ireng" yang kemudian ditafsirkan sebagian pihak sebagai pelabelan terhadap profesi wartawan, pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Gelombang tanggapan bermunculan dari berbagai kalangan jurnalis dan aktivis masyarakat sipil, termasuk aksi berjalan mundur sebagai simbol keprihatinan.
Narasi berkembang pesat akibat fragmentasi informasi di media sosial, di mana video berdurasi singkat menyebar tanpa menyertakan konteks menyeluruh dari keseluruhan pidato Presiden.