JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan pembangunan 100 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang akan dimulai pada tahun 2026. Program ini merupakan strategi jangka panjang untuk memperluas akses pendidikan berkualitas dan mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah di Indonesia.
Rencana pembangunan SNT menjadi sorotan publik belakangan ini. Pemerintah menegaskan bahwa SNT dirancang sebagai sekolah unggulan nonasrama yang dapat diakses oleh siswa berprestasi dari berbagai latar belakang sosial tanpa harus meninggalkan daerah asal mereka.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah arahan langsung dari Presiden untuk memperkuat pemerataan akses pendidikan berkualitas.
"Tahun ini direncanakan kita akan bangun seratus Sekolah Nasional Terintegrasi, dan sudah ada usulan-usulan sekolah yang masuk dari 36 yang sudah kami seleksi," ujar Abdul Mu’ti pada Senin (17/6).
Konsep Sekolah Unggulan Nonasrama
Berbeda dengan sekolah unggulan sebelumnya, SNT mengusung konsep nonasrama. Hal ini bertujuan agar sekolah unggulan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik di berbagai daerah tanpa memaksa mereka pindah ke kota besar.
Menurut Abdul Mu’ti, model pendidikan ini diharapkan membuka kesempatan yang lebih luas bagi siswa berprestasi di daerah untuk memperoleh layanan pendidikan berkualitas.
"Sekolah Nasional Terintegrasi, yang ini merupakan sekolah unggul yang tidak berasrama," tegasnya saat menjelaskan konsep program tersebut.
Program SNT juga dirancang sebagai strategi pemerataan mutu pendidikan nasional. Dengan kehadiran sekolah unggulan yang tersebar merata, akses terhadap pendidikan terbaik tidak lagi terpusat di wilayah perkotaan.