PORTALBERITA.CO.ID - Layar ponsel yang terus menyala hingga larut malam kini menjadi pemandangan karib dalam kehidupan sebagian besar remaja Indonesia. Namun, di balik keasyikan berselancar di dunia maya, ada risiko kesehatan mental yang perlahan mengintai kebahagiaan mereka.
Menjelang momentum peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) kembali memberikan perhatian serius terkait kebiasaan digital tersebut. Pemerintah menilai upaya perlindungan anak harus melingkupi kesehatan jiwa, bukan hanya kesehatan fisik semata.
"Upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh membutuhkan perhatian ekstra pada aspek psikologis, terutama saat mereka berinteraksi dengan teknologi digital," kata perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sorotan utama Kemenkes tertuju pada dampak gaya hidup remaja yang semakin tergantung pada media sosial dan gim daring. Paparan layar yang berlebihan serta tidak terkontrol dikhawatirkan dapat memicu peningkatan risiko gangguan kecemasan hingga depresi.
"Penggunaan media sosial dan permainan online tanpa batasan yang jelas berpotensi mengganggu stabilitas emosi kelompok usia muda yang masih rentan," ujar pihak Kemenkes.
Fenomena ini menjadi perhatian penting karena kelompok usia muda berada dalam fase perkembangan psikologis yang sangat dinamis. Tanpa pendampingan yang tepat, teknologi yang mulanya berfungsi sebagai sarana hiburan dapat berubah menjadi sumber tekanan mental.
"Peran aktif dari keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan agar durasi penggunaan gawai pada anak-anak dapat dikendalikan secara bijaksana," tutur perwakilan Kemenkes.
Dikutip dari INFOTREN.ID, langkah edukasi yang terus disuarakan oleh Kemenkes ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif. Perlindungan terhadap kondisi psikologis remaja menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang sehat secara utuh.