PORTALBERITA.CO.ID - Pasar keuangan global pada periode Juli 2026 menampilkan dinamika yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan volatilitas yang terasa lebih terstruktur. Meskipun demikian, tantangan terbesar bagi investor yang baru memulai sering kali bukan terletak pada analisis fundamental yang rumit.

Investor pemula kerap dihadapkan pada benteng psikologis yang mereka bangun sendiri, yang sering kali menjadi penghalang utama dalam mencapai tujuan finansial yang rasional. Fenomena ini sangat relevan dalam konteks pengambilan keputusan di pasar modal.

Studi dalam bidang behavioral finance menunjukkan bahwa mayoritas keputusan investasi yang berujung pada kerugian didorong oleh gejolak emosi, bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan teknis. Ini menegaskan bahwa aspek psikologis memegang peranan krusial.

Emosi utama yang sering mendominasi adalah ketakutan (fear) dan keserakahan (greed), yang secara signifikan memengaruhi penilaian objektif seorang investor. Kedua emosi ini dapat mengaburkan logika investasi yang telah direncanakan.

Memulai sebuah kegiatan investasi sejatinya merupakan langkah perencanaan keuangan yang sangat rasional dan terukur. Namun, proses eksekusinya sering kali terhambat oleh faktor emosional yang tidak terduga.

Salah satu hambatan mental yang sering muncul adalah fear of missing out (FOMO), yaitu kecenderungan untuk ikut berinvestasi karena takut ketinggalan tren keuntungan. Hal ini mendorong keputusan impulsif tanpa riset mendalam.

Di sisi lain, ketika pasar mengalami koreksi atau penurunan harga, investor pemula rentan terhadap kepanikan massal. Kepanikan ini mendorong mereka untuk menjual aset di waktu yang tidak tepat, seringkali merugikan posisi jangka panjang mereka.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, disebutkan bahwa fenomena behavioral finance menunjukkan bahwa keputusan investasi yang buruk mayoritas didorong oleh emosi—ketakutan dan keserakahan—bukan oleh minimnya pengetahuan teknis.

Lebih lanjut, artikel tersebut menggarisbawahi bahwa eksekusi rencana investasi sering kali tergelincir oleh fear of missing out (FOMO) atau kepanikan saat terjadi koreksi pasar, yang merupakan tantangan utama bagi pendatang baru.