PORTALBERITA.CO.ID - Pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar global belakangan ini menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan. Mata uang Garuda terpantau terus tertekan dan bahkan berpotensi menyentuh ambang batas psikologis yang penting, yaitu di level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Fenomena pelemahan mata uang ini telah memicu perhatian luas di kalangan para pakar ekonomi. Mereka kini berupaya keras untuk mengidentifikasi secara komprehensif akar permasalahan yang mendorong depresiasi tersebut, baik dari faktor-faktor yang berasal dari dalam negeri maupun pengaruh eksternal.

Faktor-faktor domestik diperkirakan memegang peranan yang sangat krusial dalam mendorong depresiasi Rupiah belakangan ini. Tekanan yang dihadapi Rupiah bukan semata-mata disebabkan oleh dinamika sentimen yang terjadi di pasar global secara umum.

Tekanan domestik ini ternyata juga dipicu oleh adanya ketidakselarasan yang terjadi antara dua pilar kebijakan ekonomi utama di Indonesia. Kedua pilar tersebut adalah kebijakan fiskal dan kebijakan moneter yang seharusnya berjalan sinergis.

Dilansir dari BISNISMARKET.COM, para ekonom kini berfokus pada bagaimana sinkronisasi kedua kebijakan tersebut menjadi sorotan utama dalam analisis penyebab pelemahan ini. Ketidakselarasan ini menciptakan ketidakpastian di pasar.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa isu global tetap menjadi kontributor penting yang memperparah kondisi yang ada. Namun, fokus utama analisis saat ini diarahkan pada bagaimana kebijakan internal mampu meredam atau justru memperburuk gejolak tersebut.

Para ekonom menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat antara kementerian terkait dengan bank sentral. Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil tidak saling bertabrakan atau memberikan sinyal yang ambigu kepada pelaku pasar.

"Fenomena ini menarik perhatian para ekonom untuk mengidentifikasi akar permasalahannya, baik dari sisi internal maupun eksternal," ujar seorang analis ekonomi, merujuk pada urgensi penelusuran penyebab depresiasi Rupiah.

Lebih lanjut, analisis menunjukkan bahwa ketidakselarasan antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi titik lemah yang dieksploitasi oleh sentimen pasar negatif. "Faktor domestik diyakini memainkan peran krusial dalam mendorong depresiasi mata uang Garuda belakangan ini," kata seorang pengamat kebijakan.