PORTALBERITA.CO.ID - Pendidikan yang diterima sejak usia dini umumnya berfokus pada pembentukan karakter positif. Anak-anak didorong untuk bersikap baik, menunjukkan rasa hormat, menjaga hubungan interpersonal, serta belajar memaafkan dan berkorban demi orang lain.

Namun, terdapat kesenjangan signifikan dalam kurikulum tersebut terkait pengajaran kemampuan kritis. Sejumlah pengamat pendidikan menyoroti bahwa hampir tidak ada materi yang secara eksplisit mengajarkan cara mengidentifikasi individu yang mungkin memanfaatkan nilai-nilai kebaikan tersebut.

Tujuan utama dari pengajaran karakter yang ada adalah menciptakan individu yang harmonis dalam masyarakat. Hal ini mencakup kemampuan membangun koneksi yang sehat dan empatik dengan sesama warga negara.

Ironisnya, minimnya pengetahuan mengenai taktik manipulasi membuat banyak orang rentan. Mereka tidak dibekali alat untuk mendeteksi ketika niat baik mereka dieksploitasi oleh pihak lain demi kepentingan pengendalian.

Kesadaran kolektif mengenai bahaya manipulasi ini seringkali baru muncul setelah terjadi kerugian nyata. Momen pencerahan ini biasanya terjadi setelah seseorang menjadi korban secara langsung atau setelah isu tersebut menjadi sorotan publik.

Fenomena ini sering terlihat ketika sebuah kasus spesifik mulai terkuak ke permukaan. Kesadaran publik meningkat drastis ketika sebuah insiden telah menjadi pembicaraan luas dan viral di berbagai platform media.

Dilansir dari INFOTREN, ada pandangan bahwa fokus pada nilai-nilai positif saja belum cukup dalam membentuk pertahanan diri di dunia sosial yang kompleks. Kurikulum perlu diperluas untuk mencakup literasi emosional dan antisipasi terhadap niat buruk tersembunyi.

"Yang kita pelajari sejak kecil adalah bagaimana menjadi anak baik, menghormati orang lain, menjaga hubungan, memaafkan, dan berkorban," menurut analisis yang disajikan di INFOTREN. Ini menegaskan bahwa pondasi etika sudah kuat, namun perisai kesadaran kritis masih kurang.

Kekurangan dalam kurikulum tersebut berdampak pada lambatnya respons masyarakat terhadap eksploitasi. "Tetapi hampir tidak ada yang mengajarkan bagaimana mengenali seseorang yang sengaja memanfaatkan semua nilai baik itu untuk mengendalikan kita," tegas analisis tersebut.