PORTALBERITA.CO.ID - Kondisi lahan pertanian Subak di Kota Denpasar kini menghadapi tantangan serius. Luas lahan subak yang masih aktif telah menyusut secara signifikan, menyisakan sekitar 1.915 hektare saja.
Penyusutan drastis ini menimbulkan kekhawatiran mendalam karena mengancam dua pilar penting bagi Bali, yaitu aspek lingkungan dan warisan budaya khas. Fenomena alih fungsi lahan menjadi isu utama yang mendorong wilayah ini memasuki fase kritis.
Pemicu utama dari menyempitnya area persawahan ini adalah maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman baru. Hal ini secara langsung mengurangi kapasitas Denpasar untuk menjaga ketahanan pangan wilayahnya sendiri.
Permasalahan krusial ini menjadi fokus perhatian khusus dari para pemangku kepentingan di bidang pertanian lokal. Salah satu pihak yang menyuarakan keprihatinan adalah Ketua Unit Subak Universitas Udayana.
Isu ini dinilai sangat mendesak karena menyangkut kelangsungan sistem irigasi tradisional Bali yang telah diakui dunia. Subak yang tersisa saat ini tersebar di empat kecamatan berbeda dalam wilayah administrasi Kota Denpasar.
Ketua Unit Subak Universitas Udayana, I Ketut Suamba, menyoroti pentingnya upaya kolektif untuk menjaga sisa lahan pertanian tersebut. Beliau menekankan bahwa keberlanjutan sistem subak adalah kunci menjaga identitas Bali.
"Kelangsungan subak yang tersebar di empat kecamatan di Denpasar ini memerlukan perhatian mendalam dari berbagai pihak," ujar I Ketut Suamba.
Dilansir dari Detikcom pada Rabu (20/5/2026), kondisi ini mengindikasikan bahwa intervensi kebijakan dan kesadaran publik harus segera ditingkatkan untuk memitigasi ancaman tersebut.