JAKARTA – Kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Prancis belum lama ini membuahkan hasil konkret berupa empat kesepakatan komersial baru di sektor energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan. Lawatan ini ditegaskan pemerintah sebagai bagian dari agenda diplomasi strategis untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan Prancis.

Meskipun kunjungan tersebut menuai sorotan publik, terutama terkait pernyataan Presiden Prabowo mengenai pentingnya pembelajaran bahasa Prancis di tengah isu prioritas pendidikan dasar, pemerintah menekankan bahwa kunjungan tersebut lebih dari sekadar seremonial.

Dalam pertemuan bilateral di Istana Élysée, Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Kedua pemimpin membahas sejumlah isu strategis yang dinilai berdampak langsung pada kepentingan nasional Indonesia. Pembahasan mencakup kerja sama pertahanan, energi bersih, riset, pendidikan, serta percepatan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi capaian konkret dari pertemuan tersebut. "Dalam kunjungan kenegaraan tersebut, tercapai empat kesepakatan komersial baru yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan," ujar Teddy Indra Wijaya pada Kamis (30/5).

Selain kesepakatan komersial, kedua negara juga meluncurkan forum bisnis tingkat tinggi, yaitu France-Indonesia High Level Business Council. Forum ini diproyeksikan menjadi wadah strategis untuk memperluas investasi dan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara menjelang implementasi kerja sama ekonomi Indonesia-Uni Eropa.

Dalam perspektif geopolitik, Presiden Prabowo dan Presiden Macron juga mendiskusikan isu-isu internasional, termasuk konflik Timur Tengah, situasi Ukraina, keamanan kawasan Indo-Pasifik, hingga stabilitas Asia Tenggara.

Presiden Macron secara eksplisit menyatakan bahwa Indonesia adalah mitra strategis penting bagi Prancis di kawasan Indo-Pasifik. Macron juga mengapresiasi posisi Indonesia yang dinilai aktif mendorong perdamaian internasional, termasuk dukungan terhadap Palestina dan peran pasukan Indonesia dalam misi perdamaian di Lebanon. Menurut Macron, kemitraan kedua negara krusial dalam menjaga stabilitas global di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.

Di tengah munculnya berbagai kritik di ruang publik mengenai prioritas kunjungan luar negeri, pemerintah berpandangan bahwa diplomasi aktif tetap esensial. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia di kancah global, membuka peluang investasi, memperluas pasar baru, serta menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan ekonomi dan geopolitik dunia yang terus berkembang.

Follow portalberita.co.id
Follow on Google