JAKARTA – Di tengah meluasnya perdebatan media sosial terkait istilah "Londo Ireng", Pemerintah Indonesia terus mematangkan rencana strategis akselerasi kualitas pendidikan tinggi. Pemerintah berencana mendirikan 10 universitas baru yang bermitra dengan perguruan tinggi ternama asal Inggris guna mengatasi krisis tenaga medis nasional.
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memberikan klarifikasi resmi guna meluruskan polemik istilah "Londo Ireng" yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Harlah ke-28 PKB, Kamis (23/7/2026). Pigai menegaskan bahwa pernyataan Presiden tidak ditujukan untuk menggeneralisasi profesi wartawan.
"Saya tegaskan, 'Londo Ireng' itu merujuk pada pihak yang membantu kepentingan asing untuk mengkhianati negaranya, bukan menyebut wartawan secara keseluruhan," kata Pigai, Rabu (29/7/2026).
Menurut Pigai, istilah historis tersebut menggambarkan mentalitas pengkhianatan terhadap kedaulatan negara yang dapat dialami oleh individu dari berbagai latar belakang profesi, baik oknum pejabat, pegawai negeri, maupun insan pers. Ia menambahkan, Presiden Prabowo tetap menaruh rasa hormat dan mengapresiasi peran wartawan secara luas. Polemik ini dinilainya dipicu oleh penjudulan berita yang dinilai kurang tepat oleh salah satu media.
Gebrakan 10 Kampus Baru dan Kemitraan Russell Group
Di balik dinamika ruang publik tersebut, pemerintah fokus merealisasikan transformasi sektor pendidikan tinggi dan kesehatan. Dalam forum UK–Indonesia Education Roundtable di Lancaster House, London, pada 20 Januari 2026, Presiden Prabowo mengundang jaringan universitas riset elite Inggris yang tergabung dalam Russell Group—seperti University of Oxford, University of Cambridge, dan Imperial College London—untuk berinvestasi serta berkolaborasi di Indonesia.
Langkah strategis ini diambil guna mengatasi ketimpangan sektor kesehatan nasional. Saat ini, Indonesia masih mengalami defisit sekitar 140 ribu dokter, sementara kapasitas produksi lulusan kedokteran nasional baru mencapai 9 ribu orang per tahun.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kerja sama tersebut mencakup rencana pembangunan 10 universitas baru dengan fokus utama pada pendidikan kedokteran serta bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
"Harapannya, peringkat universitas di Indonesia dapat meningkat ke level dunia," ujar Teddy di Bandara London Stansted, Inggris. Pemerintah menargetkan universitas-universitas baru ini sudah dapat menerima mahasiswa angkatan pertama pada awal tahun 2028.