PORTALBERITA.CO.ID - Indonesia saat ini sedang memfokuskan diri pada agenda strategis nasional yang krusial, yaitu memaksimalkan dampak positif dari program hilirisasi bijih nikel. Fokus ini menjadi pilar penting dalam peta jalan energi negara ke depan.

Agenda hilirisasi nikel ini memiliki keterkaitan erat dengan upaya pemerintah dalam mencapai target ambisius pembangunan energi terbarukan. Target spesifik yang dimaksud adalah peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga mencapai angka 100 gigawatt (GW).

Untuk mewujudkan lompatan signifikan dalam kapasitas energi bersih ini, diperlukan adanya terobosan substansial dalam inovasi teknologi. Inovasi yang dikembangkan secara mandiri di dalam negeri dianggap sebagai kunci keberhasilan jangka panjang.

Ketergantungan yang terlalu besar pada teknologi impor dinilai kurang ideal untuk menjamin kedaulatan energi nasional dalam konteks jangka panjang. Oleh karena itu, pengembangan kapabilitas domestik menjadi prioritas utama.

Hal ini mengindikasikan bahwa keberhasilan mencapai target PLTS 100 GW sangat bergantung pada sejauh mana program hilirisasi nikel dapat mendorong kemajuan teknologi energi penyimpanan. Baterai berbasis nikel menjadi komponen vital dalam transisi energi ini.

"Indonesia saat ini tengah menghadapi sebuah agenda strategis yang sangat penting dalam peta jalan energi nasional, yakni bagaimana memastikan program hilirisasi nikel memberikan dampak maksimal," Dikutip dari INFOTREN.ID.

Agenda strategis tersebut juga sangat terikat erat dengan upaya mendukung pencapaian target ambisius pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga mencapai 100 gigawatt (GW), Dikutip dari INFOTREN.ID.

Kebutuhan akan terobosan teknologi ini diperkuat oleh pandangan bahwa "Hal ini mengindikasikan bahwa untuk mencapai lompatan besar tersebut, diperlukan terobosan signifikan dalam inovasi teknologi yang dikembangkan di dalam negeri," Dikutip dari INFOTREN.ID.

Lebih lanjut, penekanan pada inovasi lokal disampaikan melalui pandangan bahwa "Ketergantungan pada teknologi impor dinilai kurang ideal dalam konteks kedaulatan energi jangka panjang," Dikutip dari INFOTREN.ID.