JAKARTA – Eks Menteri Keuangan Fuad Bawazier menyatakan bahwa gejolak nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga menyentuh level 5.707 saat ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan krisis ekonomi tahun 1998.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perbincangan di media sosial mengenai kondisi pasar keuangan domestik, yang kerap dikaitkan dengan isu politik dan pemerintahan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah meminta masyarakat untuk tidak panik. Pemerintah menegaskan bahwa pergerakan kurs dan pasar saham lebih dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan ekspektasi investor, alih-alih pelemahan ekonomi riil.

Perbedaan Fundamental dengan Krisis 1998

Fuad Bawazier menekankan bahwa krisis 1998 dipicu oleh kombinasi masalah ekonomi dan ketidakstabilan politik yang signifikan pada masa itu. Menurutnya, menyamakan fluktuasi pasar saat ini dengan kondisi hampir tiga dekade lalu adalah tidak tepat.

"Struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis 1998. Sistem perbankan lebih sehat, pengawasan sektor keuangan lebih ketat, serta cadangan kebijakan pemerintah lebih beragam," ujar Fuad.

Pandangan ini sejalan dengan evaluasi pemerintah bahwa gejolak yang terjadi masih berada dalam koridor yang dapat dikelola.

Pemerintah: Indikator Ekonomi Riil Sehat

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mengambil kesimpulan prematur mengenai kondisi ekonomi nasional hanya berdasarkan pergerakan pasar keuangan.