JAKARTA – Di tengah perbincangan publik mengenai isu harga beras dan rencana ekspor komoditas pangan, Perum Bulog memberikan klarifikasi tegas. Bulog menyatakan bahwa rencana ekspor beras ke Malaysia masih dalam tahap negosiasi harga dan menegaskan bahwa stok beras program Subsidi Pangan dan Harga Pangan (SPHP) dipastikan aman untuk kebutuhan dalam negeri.

Klarifikasi ini penting untuk meredam narasi yang berkembang di media sosial yang menyebut pemerintah lebih memprioritaskan ekspor dibandingkan stabilitas harga beras domestik.

Ekspor Beras Masih Tahap Negosiasi Harga

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal, menegaskan bahwa rencana ekspor beras ke Malaysia belum mencapai kesepakatan final. Proses yang berjalan saat ini masih berfokus pada penjajakan dan negosiasi harga.

"Rencana ekspor beras Indonesia ke Malaysia masih dalam tahap negosiasi dan belum mencapai kesepakatan harga," ujar Ahmad Rizal di Jakarta, Rabu (20/5).

Menurut Rizal, pihak Malaysia mengajukan penawaran harga di bawah Rp10.000 per kilogram. Namun, tawaran tersebut belum disetujui oleh Indonesia.

"Kemarin kami hanya nego untuk harga. Nah, harga yang belum cocok karena kalau kualitas mereka sudah oke, tidak ada masalah. Tinggal harga yang menurut kami agar dinaikkan lagi karena harganya terlalu rendah," jelasnya.

Bulog mengusulkan harga jual berada di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Usulan ini didasarkan pada kualitas beras yang disiapkan untuk ekspor, yang merupakan kategori premium dengan tingkat patahan hanya sekitar 5 persen, lebih tinggi kualitasnya dibandingkan beras premium di pasar domestik.

Dengan demikian, proses ekspor ini masih merupakan pembahasan bisnis antarnegara dan belum dapat langsung dikaitkan dengan dinamika harga beras di dalam negeri.