PORTALBERITA.CO.ID - Sorotan publik kembali mengarah pada Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyusul mencuatnya isu pungutan liar (pungli) yang terjadi di salah satu destinasi wisata unggulan. Permasalahan ini secara spesifik terjadi di kawasan pemandian air panas Sidebuk-debuk yang terkenal.
Isu ini memperoleh perhatian serius dari Bobby Nasution yang mengambil langkah tegas menanggapi keluhan masyarakat. Tindakan cepat ini diambil sebagai respons atas keresahan yang dirasakan oleh para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut.
Keresahan wisatawan tersebut muncul akibat adanya praktik penarikan biaya yang dianggap tidak wajar. Para pengunjung mengeluhkan adanya pembebanan biaya ganda saat mereka hendak memasuki area wisata pemandian populer itu.
Fenomena pungli ini secara langsung merugikan secara finansial bagi para wisatawan yang datang untuk berlibur. Kejadian berulang ini mengindikasikan adanya ketidaknyamanan signifikan dalam mekanisme pengelolaan retribusi di tempat wisata tersebut.
Bobby Nasution dilaporkan telah mengambil sikap keras dan memberikan teguran langsung kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo. Teguran ini merupakan tindak lanjut atas laporan mengenai praktik pungutan ilegal di lokasi wisata tersebut.
Dilansir dari INFOTREN.ID, permasalahan pungutan liar yang kembali mencuat ini menjadi perhatian utama dalam tata kelola pariwisata daerah. Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap sistem retribusi yang berlaku.
"Permasalahan pungutan liar (pungli) kembali menjadi sorotan tajam di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, khususnya pada area pemandian air panas Sidebuk-debuk," demikian disampaikan dalam pemberitaan tersebut.
Lebih lanjut, disebutkan bahwa isu ini memicu keresahan di kalangan wisatawan yang berkunjung ke destinasi populer tersebut. Hal ini menunjukkan dampak negatif praktik tersebut terhadap citra pariwisata daerah.
"Keluhan ini muncul langsung dari sejumlah pengunjung yang merasa dirugikan secara finansial akibat praktik penarikan biaya ganda saat hendak memasuki area wisata," kutipan tersebut menyoroti inti permasalahan yang dihadapi wisatawan.