JAKARTABank Indonesia (BI) menyatakan optimismenya terhadap penguatan nilai tukar rupiah pada semester kedua tahun 2026. Meski sempat menyentuh level Rp17.672 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Mei 2026, otoritas moneter memastikan cadangan devisa nasional masih lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi pasar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal dan dinamika global. Menurutnya, BI telah meningkatkan intensitas intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar valuta asing lainnya guna meredam volatilitas.

"Kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Posisi saat ini masih berada di atas metrik Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang ditetapkan IMF, dengan skor di atas 100. Oleh karena itu, dosis intervensi kami naikkan untuk menjaga stabilitas," ujar Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (18/5/2026).

Faktor Global dan Tekanan Musiman
Perry menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), yang memicu pergeseran modal global ke aset aman (safe haven). Selain itu, ketegangan geopolitik internasional dan kenaikan harga energi dunia turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, pelemahan ini juga dipengaruhi oleh siklus musiman pada periode April hingga Juni. Pada periode tersebut, kebutuhan devisa biasanya meningkat tajam untuk pembayaran impor, aktivitas korporasi, serta transaksi internasional lainnya.

"Pola ini hampir selalu muncul setiap tahun. Kami memperkirakan tekanan musiman ini akan mulai mereda pada Juli hingga Agustus, sehingga memberikan ruang bagi penguatan rupiah," tambah Perry.

Proyeksi dan Langkah "All Out" BI
Bank Indonesia memproyeksikan rupiah berpotensi kembali menguat menuju kisaran Rp16.500 per dolar AS seiring meredanya sentimen negatif global. BI tetap meyakini nilai tukar sepanjang tahun 2026 akan bergerak dalam rentang asumsi APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Untuk mencapai target tersebut, BI telah mengambil langkah "all out" melalui berbagai instrumen kebijakan, di antaranya:
1. Peningkatan Bunga SRBI: Menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen untuk menarik modal asing (capital inflow). Tercatat, arus masuk modal bersih melalui SRBI mencapai USD 105,16 miliar secara tahun kalender hingga 18 Mei 2026.
2. Diversifikasi Transaksi: Memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT), termasuk transaksi Yuan-Rupiah, guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
3. Pembatasan Pembelian Valas: Menurunkan batas pembelian dolar AS tunai tanpa underlying dari USD 50.000 menjadi USD 25.000 per bulan mulai Juni mendatang.

Perry mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada narasi angka harian yang viral di media sosial. Menurutnya, kondisi ekonomi nasional harus dilihat secara komprehensif melalui indikator inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan sistem keuangan yang tetap terjaga.