PORTALBERITA.CO.ID - Kasus kejahatan siber yang melibatkan pihak internal kembali menjadi sorotan publik setelah insiden sabotase sistem melanda sebuah perusahaan teknologi informasi. Peristiwa ini menegaskan betapa krusialnya penataan tata kelola hak akses karyawan dalam menjaga integritas infrastruktur digital korporasi.
Dikutip dari INFOTREN.ID, seorang mantan pekerja bernama Kandula kini harus menghadapi proses hukum yang berlaku di India. Pria tersebut diduga kuat melakukan tindakan perusakan secara sengaja dengan menghapus seluruh data pada 180 server milik mantan tempatnya bekerja.
Entitas yang menjadi sasaran dalam insiden ini adalah NCS, sebuah perusahaan penyedia layanan informasi, komunikasi, dan teknologi. Tindakan sabotase tersebut berdampak sangat luas pada operasional serta menimbulkan kerugian finansial yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Rangkaian peristiwa ini bermula ketika Kandula secara resmi diberhentikan dari posisinya di perusahaan tersebut. Keputusan pemutusan hubungan kerja tersebut disampaikan melalui surat resmi yang diterimanya pada Oktober 2022.
Secara analitis, insiden ini menyingkap kerentanan fatal yang kerap terjadi pada proses pemutusan akses sistem (offboarding) pasca-PHK. Kelalaian atau keterlambatan dalam mencabut hak akses pengguna dapat memberikan celah bagi mantan karyawan untuk mengakses sistem secara tidak sah.
Penghapusan data secara masif pada 180 server tidak hanya melumpuhkan pusat data internal, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan klien terhadap keandalan NCS. Proses pemulihan sistem dalam skala besar tersebut membutuhkan alokasi sumber daya teknis dan finansial yang sangat tinggi.
Proses hukum yang menjerat Kandula menjadi pelajaran berharga bagi manajemen teknologi informasi di tingkat global. Penanganan kasus ini menunjukkan bahwa tindakan pengrusakan aset digital memiliki konsekuensi hukum pidana yang sangat serius.
Sebagai langkah preventif, setiap organisasi dipandang perlu menerapkan protokol keamanan berbasis Zero Trust dan melakukan audit akses secara berkala. Pemantauan ketat terhadap aktivitas server menjadi kunci utama untuk mencegah terulang perusakan infrastruktur serupa di masa mendatang.